SLEMAN – Malam puncak peringatan haul pertama K.H. Muhammad Imam Aziz yang dikemas dalam acara "Tadarus Budaya" berlangsung meriah dan penuh makna lewat penampilan grup musik Ki Ageng Ganjur (19/07). Dalam penampilannya, grup yang dipimpin oleh seniman dan budayawan Sastro Al Ngatawi ini tidak sekadar menyuguhkan hiburan, tetapi turut menyuarakan pesan kepedulian serta solidaritas kemanusiaan yang mendalam bagi rakyat Palestina.
Menurut Sastro Ngatawi, kiprah bermusik Ki Ageng Ganjur merupakan manifestasi dari nilai dan spirit yang selalu diajarkan oleh almarhum Kiai Imam Aziz, yakni senantiasa membangun dialog lintas iman dan lintas bangsa. "Kalau yang lain dialognya melalui diskusi, dialognya melalui pemikiran, Ki Ageng Ganjur dialognya melalui musik," tuturnya di hadapan ratusan jemaah dan santri yang memadati area pesantren.
Grup musik yang seluruh personelnya merupakan santri ini mengawali penampilannya dengan merawat tradisi, yakni melantunkan puji-pujian selawat serta tembang-tembang kuno peninggalan leluhur seperti Lir-Ilir. Uniknya, tembang Jawa tersebut dikemas secara kontemporer dengan gaya jazz agar tetap relevan dihidupkan pada masa kini.
Setelah membawa jemaah menyelami tembang dari tanah Jawa, Ki Ageng Ganjur kemudian mengajak seluruh hadirin untuk memusatkan perhatian dan memberikan solidaritas kepada krisis kemanusiaan yang sedang menimpa saudara-saudara di Gaza, Palestina. "Dari Jawa kita ke Palestina, dari Lir-Ilir kita ke We Will Not Go Down," seru Sastro Ngatawi.
Suasana seketika berubah menjadi syahdu sekaligus menggetarkan saat lagu We Will Not Go Down (Song for Gaza) dilantunkan. Penampilan emosional tersebut membuktikan bahwa jarak dan perbedaan bangsa tidak menjadi penghalang bagi empati kemanusiaan. Sastro Ngatawi bahkan mengaku merinding dan menegaskan bahwa harmoni musik tersebut adalah cara mereka mengekspresikan solidaritas kepada Palestina.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perpaduan berbagai elemen instrumen dalam alunan musik mereka—yang menggabungkan nuansa Jawa, Tionghoa (Cina), dan Eropa—bukanlah tanpa alasan. Harmoni lintas budaya tersebut digabungkan menjadi satu sebagai "cerminan bersatunya hati dan jiwa untuk berpadu membela dan solidaritas pada Palestina". Aksi panggung Ki Ageng Ganjur malam itu pun sukses merefleksikan jejak perjuangan K.H. Imam Aziz yang semasa hidupnya selalu teguh membela kemanusiaan di atas segala perbedaan.