SLEMAN – Peringatan haul pertama almarhum K.H. Muhammad Imam Aziz yang mengusung tema "Sunyi Menggerakkan" telah sukses diselenggarakan dengan khidmat di Pesantren Bumi Cendekia, Padukuhan Gombang, Sleman, Yogyakarta (19/07). Acara ini menjadi momentum penting untuk merawat ingatan atas jejak perjuangan dan dedikasi sosial almarhum yang terus hidup di tengah masyarakat.
Istri almarhum, Ibu Nyai Hj.Rindang Farihah, menjelaskan bahwa rangkaian peringatan haul ini telah berlangsung sejak pagi hari yang diawali dengan kegiatan khataman dan manaqib Al-Qur'an bersama teman-teman alumni Kajen (Mathali'ul Falah). Pada sore harinya, peringatan dilanjutkan dengan peresmia perpustakaan dan peluncuran dua buku mengenai sosok K.H. Imam Aziz yang diinisiasi oleh jaringan LKiS dan Gusdurian. Puncak peringatan kemudian ditutup pada malam hari melalui pagelaran "Tadarus Budaya" yang dimeriahkan oleh grup musik pimpinan Sastro Ngatawi, Ki Ageng Ganjur.
Kesuksesan acara yang berlangsung hingga malam hari ini merupakan wujud nyata dari kuatnya jaringan kemanusiaan almarhum semasa hidupnya. Acara ini dihadiri oleh ratusan santri, perwakilan pemerintahan Kabupaten Sleman, tokoh agama, pengurus Nahdlatul Ulama, keluarga besar, serta jaringan lintas komunitas dari Yayasan Bumi Aswaja, Gusdurian, LKiS, hingga Syarikat Indonesia.
Ketua Panitia Haul, Agusta Antalatofa, dalam sambutannya menegaskan bahwa acara ini bukan ditujukan sebagai ruang untuk larut dalam kesedihan. "Mari kita jadikan hari ini sebagai pemantik kita semua untuk terus melanjutkan perjuangan, cita-cita, dan juga dedikasi sosial yang selama ini beliau perjuangkan," tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Yayasan Bumi Cendekia, Muhammad Iqbal Ahnaf, menyampaikan bahwa haul ini adalah momen krusial untuk menjaga "bara" dan semangat perjuangan pendidikan. Beliau mengenang kembali bagaimana K.H. Imam Aziz memberikan dukungan yang sangat besar pada tahun 2018 untuk mewujudkan mimpi anak-anak muda dalam membangun Pesantren Bumi Cendekia—sebuah lembaga pendidikan unggul dan terjangkau yang kini telah mendidik sekitar 250 santri.
Hebatnya, reputasi baik dan keteladanan yang ditinggalkan di sekitar K.H. Imam Aziz membuat pesantren ini dipercaya oleh para orang tua dari berbagai penjuru Nusantara. "Santri kita alhamdulillah berasal dari berbagai wilayah di Indonesia... ada salah satu wali santri yang datang jauh dari Pulau Buru naik kapal 3 hari... datang ke Jogja karena mendengar ada sebuah pesantren yang dirintis oleh tokoh-tokoh di sekitar K.H. Imam Aziz," pungkas Iqbal Ahnaf, membuktikan bahwa dedikasi almarhum terus membawa manfaat yang luas hingga hari ini.