Gombang, Tirtoadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, DIY
+62 857-0457-0001

Kabar Cendekia

Membuka Nostalgia Bersama Martin Van Bruinessen

Kamis pagi (29/01), Bumi Cendekia kedatangan kawan alm. KH. Imam Aziz semasa hidup, Martin Van Bruinessen. Martin Van Bruinessen atau kerap disapa dengan Pak Martin, merupakan guru besar Universitas Utrecht sekaligus Antropolog asal Belanda yang pernah tinggal selama 30 tahun di Yogyakarta. Kedatangan Martin ke Bumi Cendekia bersama istrinya, Ranni, yang lahir di Surabaya dalam rangka berziarah ke pusara KH. Imam Aziz. 

 

Pak Martin telah menulis beberapa buku yang berfokus pada kajian Islam, Pesantren dan juga studi kawasan. Pada kunjungannya, Pak Martin disapa hangat oleh pengurus Pesantren, kemudian mereka saling bernostalgia mengenang sosok Imam Aziz selama hidup. 

 

Dalam kenangannya, Pak Martin mengenang pertemuannya dengan KH. Imam Aziz saat ia menjadi dosen di IAIN Kalijaga. “Dulu saya suka ngobrol dengan mahasiswa-mahasiswa ‘nakal’ di luar kelas. Di Forum luar kelas ini, diskusi-diskusi menjadi lebih hidup. disanalah ketemu Imam”, kenangnya dalam Bahasa Indonesia. 

 

Imam Aziz yang ia ingat, adalah sosok yang berani dan progresif. Ia tahu bahwa Imam melakukan upaya rekonsiliasi kultural korban kekerasan 1965. Cerita ini juga diperkuat kesaksian Bu Nyai Rindang, istri Kyai Imam, “Mas Imam dulu mengumpulkan ‘alumni’ camp Plantungan di jogja. Kalau yang laki-laki di pulau Buru, yang perempuan ada di Plantungan, Kendal".  

 

Bentuk rekonsisilasi yang dilakukan adalah dengan penelusuran sejarah. Banyak anak muda NU yang digerakkan untuk menggali sejarah 1965. Mereka menemui korban di berbagai daerah. Ada cerita bahwa ternyata salah satu yang melakukan wawancara, keluarganya adalah pelaku kekerasan kepada keluarga yang diwawancara. Hal ini kemudian berlanjut pada dialog dan upaya lebih lanjut dalam rekonsiliasi. 

 

Menjelang siang, acara berganti menjadi forum ruang literasi bersama beberapa santri dari kelas 10 dan 11 SMA Bumi Cendekia yang dipantik oleh Pak Martin. Pak Martin mengawalinya dengan bercerita tentang pertemuannya dengan para mahasiswa pro-demokrasi saat ia jadi dosen di UIN Yogyakarta, tahun 1990-an. 

 

Martin menggunakan analogi bendera untuk menggambarkan situasi politik saat itu, “Bendera Indonesia itu Merah Putih, tapi oleh Soeharto dirobek, sehingga merah dan putihnya terpisah. Merahnya hilang melalui pembantaian PKI 1965.” katanya sambil memperagakan gerakan menyobek bendera. 

 

Diskusi diikuti santri dengan tertib, salah satunya Haidan yang merasa kagum dengan pengetahuan Mr. Martin mengenai sejarah politik di Indonesia. Santri lainnya, yaitu Zulfan yang mempertanyakan apakah setelah reformasi, politik kita sekarang masih cenderung mengarah oposisi ke merah seperti di era orde baru? Atau, sudah mengalami banyak perkembangan? Mr. Martin menjawab terdapat perubahan meski tak selalu harus hal yang drastis. 

 

 

Mr. Martin juga mengakui kekagumannya terhadap sosok KH. Imam Aziz atas konsistensinya membantu masyarakat kecil dalam memperjuangkan hak-haknya di masa yang sulit. Bagi Mr. Martin, KH. Imam Azis bukan hanya sekedar kenalan yang ia kagumi. Melainkan, sesama pejuang yang membuatnya berkembang. Begitu hangat ketika Mr. Martin menyampaikan kesan pesan selama mengenang almarhum di masa hidupnya. Kegiatan haru dan nostalgia ini ditutup dengan doa dan acara foto bersama-sama. Setelah itu, Martin ikut menaburkan bunga di atas peristirahatan KH. Muhammad Imam Azis, sebagai simbol mengenang.