Gombang, Tirtoadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, DIY
+62 857-0457-0001

Kabar Cendekia

Bumi Cendekia Menjadi Penjamu Lebaran Gusdurian

 

Minggu sore (05/04), telah diselenggarakan acara Lebaran Gusdurian dengan tema Mempererat Silaturahmi, Memperkuat Demokrasi. Acara ini diselenggarakan atas dukungan banyak pihak, yang mana kali ini Bumi Cendekia menjadi tuan rumah penjamu di acara ini. 

 

 

Acara dibuka oleh MC yang kemudian mengarahkan audience untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian dilanjut pembukaan doa yang dipimpin oleh KH Abdul Muhaimin. Sebelum membacakan doa, beliau memaparkan “kita di sini dikumpulkan karena Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kalau Indonesia baik-baik saja, kayaknya gak ada acara Gusdurian.” 

 

Setelah itu, memasuki acara Sarasehan yang dimoderatori oleh Siti Munawaroh selaku Jaringan Advokasi Sekretariatan Gusdurian. Dalam acara Sarasehan ini, terdapat 3 pembicara yang mana semuanya merupakan tokoh yang penting. Pembicara pertama yaitu Alissa Wahid selaku putri sulung dari Almarhum Gusdur. Pembicara kedua yaitu Muhammad Busyro Muqoddas selaku wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia (KPKI), yang mana beliau juga pernah menjabat sebagat ketua. Dan, pembicara ketiga yaitu Lukman Hakim Saifuddin selaku mantan Menteri Agama Indonesia.

M. Busyro, Lukman Hakim dan Iqbal Ahnaf saat penyerahan kenang-kenangan.

 

Alissa & Prof. Imam saat penyerahan kenang-kenangan
Nyai Rindang & Lukman Hakim saat penyerahan kenang-kenang

“Gusdurian didirikan tahun 2010, yang awalnya dibuat untuk menyiapkan arena supaya lahir Imam Azis baru yang menjadi inspirasi bagi kami di jejaring Gusdurian”, begitulah yang dipaparkan oleh Alissa. Acara Sarasehan juga menjadi media keadilan bagi tiga mahasiswa yang sempat menjadi target yang dikambinghitamkan pada demo yang terjadi di Solo beberapa bulan lalu. Mereka dipenjarakan atas tuduhan melakukan provokasi demo. Setelah resmi dibebaskan bulan lalu, dua dari tiga mahasiswa itu dihadirkan dalam acara untuk mengungkapkan bagian dari keadilan yang belum diketahui banyak publik. “Meski begitu, saya mendapat hikmah ketika di dalam penjara. Saya menyaksikan banyak napi-napi yang kehilangan keluarganya, bagaimana mereka hidup terisolasi sendirian. Dari situ saya mendapat manfaat, untuk lebih memberi perhatian lagi terhadap keluarga saya. Ketika saya dibebaskan, saya langsung menghubungi ibu saya.” Papar salah satu mahasiswa tersebut.

Salah satu mahasiswa yang dikambinghitamkan, bernama Bogi secara khusus mengirimkan surat. Dalam suratnya Bogi memaparkan rasa terima kasih kepada semua khalayak yang membantu pembebasannya bersama dua mahasiswa yang hadir. “Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang sudah mengupayakan secara maksimal kebebasan kami semua, terutama kepada Jaringan Gusdurian. Semoga ini adalah awal terbangunnya gerakan rakyat yang lebih kuat".

 

Acara sore itu ditutup dengan penanaman pohon oleh Alissa Wahid, Muhammad Busyro dan Lukman Hakim Saifuddin. “Dulu, waktu kami menanyakan satu nama untuk pesantren ini. Satu kata yang disampaikan mas Imam adalah ‘Bumi’. Saya ingat dulu, titah Gusdur yang sering kami dengar adalah ‘membumikan islam’. Itu sebabnya saya berpesan kepada pengurus pesantren ini, untuk menamakan pesantren ini menjadi Bumi Cendekia", tutur Iqbal Ahnaf selaku ketua Yayasan Bumi Aswaja setelah melakukan serangkaian penanaman pohon. Acara ditutup dengan doa yang juga dipimpin oleh Iqbal Ahnaf.